Selasa, 07 Juni 2016

KHATAMAN & IMTIHAN KE-V TPQ AL-FAQIH

        Pada hari Minggu tertanggal 29 mei 2016, jam 12.00 selepas Shalat dzuhur kami sekeluarga bergegas menuju dusun Ngasinan, Kepatihan Menganti-Gresik. Bukan untuk menghadiri resepsi pernikahan melainkan untuk mengikuti khataman anak kami.
Khataman TPQ AL-FAQIH Ngasinan

Berikut adalah beberapa gambar yang adapat kami upload pada saat kegiatan Khataman dan Imtihan ke-5 TPQ Al-Faqih , Dusun: Ngasinan, Desa : Kepatihan , Kec: Menganti- Gresik


















Sabtu, 02 April 2016

LEGENDA GOA KISKENDO DALAM TARI

SENDRATARI SUGRIWA SUBALI


Perjalanan satu setengah jam kami mulai perjalanan dari desa Pandanrejo lewat desa Tlogoguwo yang ada di Kec Kaligesing Purworejo Jawa-Tengah menuju tempat wisata Goa Kiskendo yang ada di Provinsi DIY.
Jalan masuk ke kawasan Gua Kiskendo tampak padat dengan kendaraan bermotor. Para petugas parkir dengan rompi hijau menyala terlihat sibuk di sana-sini mengatur kendaraan agar terparkir rapi. Dari kejauhan sudah terdengar musik yang berasal dari tabuhan gamelan. Dalam hati saya pun bertanya, "Apa sudah dimulai?". Kami pun buru-buru menuju ke pendopo setelah sebelumnya membayar tiket masuk area wisata Gua Kiskendo, tak mau ketinggalan lebih jauh lagi. Alangkah leganya ketika kami sampai di area dekat pendopo, ternyata pertunjukan belum dimulai. Panggung sederhana yang dibangun tak jauh dari pendopo masih terlihat kosong tanpa penari yang meliak-liuk lincah di atasnya. Hanya terlihat para wiyaga yang menabuh gamelan mengiringi tembang yang dinyanyikan para waranggana dan wiraswara. Sementara itu, di dalam pendopo para pemain tampak bersiap-siap dengan riasan dan kostum masing-masing.

Kisah Subali Sugriwa yang merupakan bagian dari epos Ramayana karya Walmiki, berkembang sebagai legenda di Gua Kiskendo, Jatimulyo, Kulonprogo. Kisah tentang dua kakak beradik wanara yang diutus para dewa untuk menyelamatkan Dewi Tara dari cengkraman Mahesasura dan Lembusura, namun berujung pada perselisihan kedua bersaudara. Tak sekedar mendengar cerita dari pemandu wisata, kali ini kami berkesempatan menyaksikan secara langsung visualisasi legenda tersebut dalam bentuk Sendratari Kolosal Sugriwa Subali, yaitu pertunjukan drama tanpa kata yang dikisahkan lewat tembang-tembang Jawa serta dipadukan dengan gerak gemulai tarian para pemerannya.

Setelah beberapa saat menunggu para pemain bersiap-siap, pertunjukan yang kami nanti pun dimulai. Tanah-tanah berundak yang tertutup rerumputan di depan panggung menjadi lokasi pilihan kami untuk menyaksikan pementasan, di bawah naungan sebuah pohon rindang yang entah apa jenisnya. Pementasan diawali dengan semacam tarian persembahan sebagai tradisi ungkapan syukur berupa arak-arakan gunungan hasil bumi yang diiringi tarian para dayang. Bagian menarik pun terjadi beberapa saat setelah para dayang usai menari. Saat kera-kera Gua Kiskendo menyerbu gunungan dan melempar-lemparkan tomat, terong, kacang panjang serta berbagai isi gunungan lainnya ke arah penonton, termasuk kami. Sementara para kera tampak tertawa kegirangan, beberapa orang yang duduk lebih dekat dengan panggung terlihat berseru histeris sambil menutupi wajah menghindari serangan. Alih-alih marah, para penonton yang terkena peluru nyasar malah ikut tertawa setelah tak ada lagi hasil bumi yang berterbangan.
Tak seperti legenda aslinya, karena beberapa alasan tak semua detail cerita dikisahkan dalam sendratari yang berdurasi sekitar satu jam ini. Alur cerita diawali dengan tugas yang diberikan kepada Sugriwa Subali untuk menyelamatkan Dewi Tara, putri Dewa Indra yang diculik oleh Mahesasura dan Lembusura. Untuk menghadapi Mahesasura dan Lembusura yang dikenal sakti, para dewa pun memberikan Aji Pancasona pada Subali. Kakak beradik wanara itu pun kemudian berangkat ke Kiskendo, gua yang menjadi kerajaan Mahesasura dan Lembusura. Karena hanya Subali yang memiliki kesaktian Aji Pancasona, ia pun menyuruh adiknya Sugriwa untuk menunggu di luar gua ketika mereka terdesak. Subali juga berpesan kepada adiknya jika yang mengalir keluar gua adalah darah merah, maka Subali telah mengalahkan musuh-musuhnya. namun jika yang keluar darah putih, maka Subali telah dikalahkan dan Sugriwa harus menutup pintu gua dengan batu.
Sesuai pesan kakaknya, Sugriwa menutup pintu gua dengan batu ketika melihat cairan berwarna merah bercampur putih mengalir keluar dari dalam gua, mengira Subali telah tewas dengan salah satu musuhnya. Padahal warna merah dan putih yang diilustrasikan dengan bentangan kain dalam pementasan ini adalah darah Mahesasura dan Lembusura yang bercampur dengan isi kepala mereka karena pecah diadu oleh Subali. Kebingungan melihat pintu gua yang tertutup batu, Subali memutuskan melubangi bagian dalam gua untuk keluar. Sekali lagi kami dikejutkan dengan atraksi njeblug yang menarik dalam sendratari ini. Tiba-tiba saja Subali sudah muncul di atas bukit di area Gua Kiskendo setelah diawali dengan lemparan bebatuan buatan serta suara ledakan yang sepertinya berasal dari petasan. Pementasan pun berakhir dengan babak perselisihan kedua kakak beradik karena Subali mengira Sugriwa berkhianat demi mendapatkan Dewi Tara. Perselisihan pun baru berakhir setelah kedatangan Bathara Narada yang melerai keduanya.

Mengambil lokasi di panggung terbuka dengan latar tebing batu di alam terbuka, sendratari kolosal yang dilaksanakan sebulan sekali ini pun semakin membuat kami para penikmatnya berimajinasi pada kisah yang sesungguhnya. Terbayang suasana yang lebih dramatis jika pelaksanaan pementasan dilakukan pada malam hari dengan lighting warna-warni. Bahkan mungkin Sendratari Sugriwa Subali ini tak akan kalah megahnya dengan Ramayana Ballet di Candi Prambanan. Namun meskipun saat ini masih dilaksanakan pada siang hari tanpa pencahayaan, pementasan sendratari yang bisa menjadi ikon baru wisata di Kulonprogo ini tetap menghipnotis siapapun yang datang untuk menyaksikannya.

Glosarium:
njeblug: meledak (dalam bahasa Jawa)
wanara: kera (berasal dari bahasa Sansekerta)
waranggono: penyanyi wanita dalam seni karawitan atau wayang; pesinden
wiraswara: penyanyi pria dalam seni karawitan atau wayang
wiyaga: penabuh gamelan

Jumat, 05 Juni 2015

3 Tempat wisata di Kaligesing Purworejo (Jawa Tengah)

1.Curug Silangit

Curug Silangit merupakan tempat wisata di Purworejo yang menjadi aset wisata kota Purworejo. Dinamakan Curug Silangit karena ketinggian curug ini mencapai 50 meter yang dibagi atas 3 tingkatan curug. Pada curug paling atas setinggi 30meter, curug kedua dan ketiga memiliki tinggi yang sama yaitu 10 meter. Tapi jika anda bermain air di sekitar curug ini sebaiknya hati-hati karena jika anda tidak bisa berenang sebaiknya anda bermain di tepian saja. Curug ini dikenal memiliki kedalaman kedung yang sangat dalam. Akses ke Curug Silangit dapat ditempuh dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi dan letaknya pun mudah dijangkau karena lokasinya berada di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

2. Goa Seplawan
Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing dengan jarak tempuh 20 km ke arah timur dari pusat kota dengan ketinggian 700 m di atas permukaan laut sehingga udaranya sangat sejuk. Goa ini memiliki ciri khusus ornamen yang terdapat di dalam goa, antara lain: stalaktit, stalakmit, flow stone, helekit, soda straw, gouwer dam, dan dinding-dinding berornamen seperti bentuk kerangka ikan.

Keadaan sekitar goa ini sangat mengesankan dengan pemandangan alam yang begitu indah ditumbuhi flora antara lain lumut (di mulut goa), paku-pakuan dan panorama hutan pinus yang asri. Para pengunjung juga dapat menikmati taman bunga di sekitar goa.

Panjang Goa Seplawan + 700 m dengan cabang-cabang goa sekitar 150 – 300 m dan berdiameter 15 m. Goa alam yang sangat menakjubkan ini menjadi sangat terkenal dengan diketemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri oleh warga bernama Bp Kodri dari desa Purbowono seberat 1,5 kg pada tanggal 28 Agustus 1979 yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Obyek wisata ini merupakan potensi wisata yang sangat digemari oleh wisatawan karena disamping keindahan obyeknya, goa ini juga telah dilengkapi beberapa fasilitas penunjang lain seperti listrik sebagai penerang dalam goa, MCK, dan taman. Bahkan pada kawasan ini sudah dibangun gardu pandang dan arena perkemahan (camping ground).

3. Goa Anjani
merupakan Salah satu obyek wisata di Desa Wisata Tlogoguwo selain masih banyak obyek wisata alam yang lain yang dapat kita kunjungi di desa Wisata yang memiliki potensi wisata alam yang menarik.
Terletak di sisi barat pegunungan menoreh berbatasan dengan Wilayah DI Jogjakarta,desa Wisata Tlogoguwo yang berada di wilayah kecamatan Kaligesing kabupaten Purworejo menyuguhkan panorama alam pegunungan yang cukup elok.Menempuh perjalanan 30 menit dari pusat kota Purworejo atau jika dari Kota jogjakarta 1 jam perjalanan kendaraan bermotor,kita akan di suguhi pemandangan pegunungan yang cukup menarik sepanjang perjalanan.
Goa Anjani sendiri merupakan salah satu destinasi pilihan yang berada di desa wisata Tlogoguwo,goa horisontal dengan karakteristik batuan kapur tersebut memiliki panjang ±500 m yang di buka untuk jalur wisata,berbagai relief dan stlalakmit,stalatit yang terbentuk alami akan membuat kita berdecak kagum akan keindahan alam ciptaan Tuhan.
Keanekaragaman Biota Hewan dan Jenis Kelelawar yang berada di dalam goa serta ekosistem yang masih terjaga bisa kita jumpai ,hal tersebut sangat menarik hingga membuat Goa anjani sering dijadikan sebagai obyek penelitian baik geologi maupun biologi dari perguruan Tinggi.
       
Inilah ketiga tempat wisata di Kaligesing dan sebanarnya masih banyak yang bisa di kunjungi. Satu di antaranya Pusat Pembibitan Kambing Etawa di Desa Tlogoguwo tepatnya di Kalilo.