Selasa, 22 April 2014

BABAT TANAH JAWI

LAWU                                                                                   
                   Nama asli Gunung Lawu adalah Wukir Mahendra. Menurut legenda, Gunung Lawu merupakan kerajaan pertama di pulau Jawa yang dipimpin oleh raja yang dikirim dari Khayangan karena terpana melihat keindahan alam diseputar Gunung Lawu. Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu. Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro. Saat itu, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu. 

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Konon pendaki yang mandi berendam di tempat ini, segala keinginannya dapat terkabul. Namun sebaiknya jangan coba-coba untuk mandi di puncak gunung karena airnya sangat dingin. Rumput yang tumbuh di dasar telaga ini berwarna kuning sehingga airnya kelihatan kuning. Telaga ini diapit oleh puncak Hargo dumilah dengan puncak lainnya. Luas dasar telaga Kuning ini sekitar 4 Ha.



Di sana ada sebuah mata air yang disebut Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah 2 meter dan memiliki kedalaman 2 meter. Meskipun berada di puncak gunung sumur ini airnya tidak pernah habis atau kering walaupun diambil terus menerus. 

Juga ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Gua ini dikeramatkan oleh masyarakat dan sering dipakai untuk bertapa. 

 Terdapat sebuah bangunan di sekitar puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan pejiarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Pasar Diyeng atau Pasar Setan, berupa prasasti batu yang berblok-blok, pasar ini hanya dapat dilihat secara gaib. Pasar Diyeng akan memberikan berkah bagi para pejiarah yang percaya. Bila berada ditempat ini kemudian secara tiba-tiba kita mendengar suara "mau beli apa dik?" maka segeralah membuang uang terserah dalam jumlah berapapun, lalu petiklah daun atau rumput seolah-olah kita berbelanja. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kita akan memperoleh kembalian uang dalam jumlah yang sangat banyak. Pasar Diyeng/Pasar Setan ini terletak di dekat Hargo Dalem.

Pawom Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.


Puncak Argodumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau - pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia. kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan.


MISTERI GUNUNG LAWU
Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.


Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.

Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.
Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.

Tips menuju Gunung Lawu:
Gunung Lawu terletak dekat dengan kota dan jalan raya, karenanya lebih mudah dicapai, sehingga banyak sekali pendaki yang naik ke puncak Gunung Lawu.

Untuk menuju G. Lawu dapat dimulai dan terminal bis Surabaya menuju Madiun, dilanjutkan ke Sarangan terus ke Cemorosewu. Atau dan Surakarta menuju Tawangmangu, ganti Colt jurusan Sarangan dan berhenti di Cemorosewu. Sarangan dan Tawangmangu memiliki panorama yang indah dan merupakan daerah wisata. Lernbah ini berbentuk sadel dan terletak di jalan raya tertinggi di Pulau Jawa (1.900 m).

Di Cemorosewu kita harus melaporkan diri ke PERHUTANI serta melengkapi perbekalan pendakian. Dalam pendakian dan Cemorosewu menuju puncak, kita akan menjumpai 4 buah pondok pada ketinggian berturut-turut, yaitu 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan 2.800 m dan Pesanggrahan Argo Dalem pada ketinggian 3.100 m dari permukaan air laut.

Dalam pendakian kita akan melewati hutan pinus dan hutan akasia sampai pada ketinggian 3.000 m, mulai dari situ pepohonan mulai rendah/pendek. Selanjutnya kita akan melalui punggungan gunung yang berupa padang rumput. Dan pada ketinggian ± 3.200 m rnendekati puncak, kita dapat menyaksikan beberapa kawah kecil didasar jurang yang curam.

Puncak G. Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit, serta masih banyak dijumpai sisa-sisa kawah yang telah lama tidak aktif. Dan puncaknya kita bisa menyaksikan. panorama yang sangat menawan juga lembah Tawangmangu dan Sarangan dengan danaunya yang indah.

Dari Cemorosewu sampai ke puncak memakan waktu ±7 jam, sedangkan turunnya memhutuhkan waktu ± 4 jam. Mata air dapat kita jumpai sebelum pertigaan pesanggrahan Argo Dalem, ± 1 jam perjalanan dan pondok terakhir.

Jumat, 28 Februari 2014

Kotagede, Warisan Sejarah Kerajaan Mataram Kuno


  •        Warisan kemegahan Kerajaan Mataram abad ke-16 Pada abad ke 14, Pulau Jawa berada di bawah kepempinan kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah. Sultan Hadiwijaya, Sultan yang memimpin pada saat tersebut memberikan hadiah berupa Alas (hutan) Mentaok dengan area yang cukup luas kepada Ki Gede Pemanahan.
    Hadiah ini diberikan setelah beliau berhasil menaklukkan musuh kerajaan. Selanjutnya, Ki Gede Pemanahan dengan keluarga dan pengikutnya berpindah ke Alas Mentaok, sebuah hutan yang sebenarnya adalah pusat Kerajaan Mataram Hindu pada masa - masa sebelumnya. Beliau membangun desa kecil di hutan tersebut.
  •        Desa berkembang dan setelah Ki Gede Pemanahan wafat serta digantikan oleh putranya yang bernama Senapati Ingalaga, desa berkembang sangat pesat, menjadi pusat kota yang ramai. Kota tersebut dinamakan Kotagede, yang berarti kota besar. Selanjutnya, Senapati membangun benteng yang mengelilingi keraton. Ada 2 (dua) benteng yang dibangun, yaitu benteng dalam (cepuri) dan benteng luar (baluwarti), mengelilingi kota yang mempunyai area 200 Ha. Kotagede juga dilengkapi dengan parit pertahanan yang lebar seperti sungai, mengelilingi benteng luar. Selanjutnya, terjadi peristiwa perebutan kekuasaan di Kesultanan Pajang, setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putra mahkota yang bernama Pajang, pangeran Benawa, berhasil disingkirkan oleh Arya Pangiri. Dengan berbekal bantuan Senapati, pangeran Benawa berusaha merebut kekuasaan kembali. Arya Pangiri pun akhirnya berhasil ditaklukkan namun beliau diampuni oleh Senapati.
  •         Setahun kemudian, Pangeran Benawa meninggal dan Senapati ditunjuk untuk menjadi pemimpin Kesultanan Pajang. Sejak saat itu Senapati dinobatkan menjadi raja pertama Mataram Islam, dengan gelar Panembahan. Beliau tidak mau memakai gelar Sultan Pajang, dengan maksud untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Dengan menjadi raja Mataram Islam, Senapati menentukan pusat kota dan istana pemerintahannya di Kotagede. Panembahan Senapati akhirnya wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kotagede berdekatan dengan makam ayahnya. Kerajaan Mataram Islam kemudian berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia) dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pimpinan raja ke-3, yaitu Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati). Pada tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kerajaan ke Karta (dekat Plered) dan akhirnya berakhirlah masa Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram Islam.
  •        Ada sejumlah peninggalan Kotagede yang sangat menarik, sebagai peninggalan kerajaan Mataram Islam, seperti makam para pendiri kerajaan, Mesjid Kotagede, rumah tradisional berarsitektur Jawa Mataram, hingga sisa reruntuhan benteng. Kompleks makam pendiri kerjaan Mataram berada sekitar 100 meter dari pasar Kotagede, dikelilingi tembok besar dan kokoh. Pintu Gapura memasuki kompleks makam ini masih memiliki ciri arsitektur budaya Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dengan ukiran yang indah dan dijaga oleh sejumlah abdi dalem berbusana adat Jawa. Ada 3 gapura yang harus dilewati sebelum masuk ke bangunan makam. Uniknya, kita diharapkan untuk menggunakan busana adat jawa untuk memasuki area makam. Pengalaman menarik menggunakan busana layaknya abdi dalem kerajaan Jawa kuno. Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam
    .
  •        Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana). Pengunjung diperbolehkan untuk masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat, dengan periode waktu pada pk 08.00 - 16.00. Pengunjung tidak diperbolehkan untuk memotret dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Sejumlah tokoh penting yang dimakamkan di sini adalah Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan anggota keluarganya. Memasuki makam, suasana terkesan sepi dan tenang, serta sangat khusuk. Keluarga kerajaan, baik kraton Yogyakarta maupun Surakarta, masih menjaga kelestarian makam ini dengan sangat baik.
    Di dalam kompleks makam, kita juga bisa menemui mesjid tertua di kota Yogyakarta, yaitu Mesjid Kotagede. Selain itu, ada sejumlah rumah tradisional Jawa Mataram, yang bisa dilihat di depan kompleks makam. Masih terawat dengan baik dan rumah tradisional ini masih digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat tinggal. Di sebelah barat daya dan tenggara, kita juga bisa menemukan sisa reruntuhan benteng dengan tembok setebal >1 meter. Sementara, untuk melihat sisa parit pertahanan yang mengelilingi benter, kita bisa beranjak ke sebelah timur, selatan, dan barat.
  •        Di samping kompleks makam, kita juga bisa mendapati tempat pemandian. Ada pemandian khusus pria dan wanita. Konon, air untuk pemandian pria diperoleh dari sumber di dalam kompleks makam. Sementara, air untuk pemandian wanita, diperoleh dari sumber pohon beringin di depan gerbang utama. Konon, pohon beringin ini ditanam langsung oleh Sunan Kalijaga dan telah berusia lebih dari 500 tahun. Sangat besar dengan ketinggian lebih dari 30 meter, seakan menjadi penjaga kompleks makam kotagede. Di dalam kompleks pemandian ini, terdapat hal unik bagi masyarakat awam. Kolam pemandian bercampur dengan sejumlah ikan dan ada ikan lele berukuran sangat besar bebas berenang di sini. Ukuran panjang lele 80 - 100 cm membuat kita terpesona. Belum lagi ada lele berwarna putih dengan bercak2 hitam, yang relatif langka. Bagi pengunjung yang sekedar berwisata, bisa menikmati cuci muka tangan dan kaki di sumur dekat pemandian. Sangat segar dan airnya bisa langsung diminum.
  •       Berjalan jalan sambil menelusuri sejarah Kotagede akan menambah wawasan kita terhadap sejarah masa lalu kotagede yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Mataram Jawa. Budaya dan sejarah patut dilestarikan karena merupakan asal muasal dari peradaban masyarakat Jawa saat ini. Mengenal kota Yogyakarta tidak akan utuh tanpa berkunjung ke kotagede, pusat kerajaan Mataram masa lalu.

Rabu, 19 Februari 2014

10 SURGA DUNIA DI INDONESIA

1. PULAU WEH

Pulau-Weh-573.png
Pulau ini berlokasi di bagian paling barat dari kepulauan Indonesia, tepatnya di Selat Malaka. Menyelam adalah salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Bagi kamu yang ingin menyelam, terdapat instruktur selam yang siap mengantarkan kamu ke berbagi lokasi penyelaman seperti Taman Laut di Pulau Rubiah. Lautnya menyimpan fauna-fauna eksotis seperti pari manta, hiu, paus, lumba-lumba dan penyu. Selain pantai, kamu juga bisa menikmati wisata bahari dan air terjun yang ada di dalam hutan.

2. TANJUNG KILUAN

tanjung kiluan-573.jpg
Tanjung Kiluan bertempat di Desa Kiluan Negeri, Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Terletak di bagian paling selatan, jarak tempuh dari ibukota Bandar Lampung adalah 80 km. Teluk ini terkenal akan air lautnya yang jernih, serta hamparan pasir putih di sepanjang bibir pantai.
Yang unik, teluk ini merupakan jalur migrasi hewan yang biasanya hanya bisa kita jumpai di Seaworld; yaitu lumba-lumba. Ada dua jenis lumba-lumba yang sering terlihat, yaitu lumba-lumba mulut botol (Tursiops truncatus) dan lumba-lumba paruh panjang (Stenella longirostris). Konon, jumlah lumba-lumba yang melintasi Teluk ini merupakan jumlah yang terbesar di dunia.

3. PANTAI NGURFATUR

Pantai Ngurfatur-573.jpg
Pantai yang terdapat di Provinsi Maluku, ini tertelak di Kepulauan Kei. Kepulaun Kei ini merupakan gugusan pulau yang berada di antara Laut Seram, Laut Banda dan Laut Arafuru. Keunikan dari Pantai ini adalah hamparan pasir selebar 7 meter, di tengah-tengah laut yang membagi pantai menjadi dua bagian. Selain pasirnya yang putih, Ngurfatur juga memilikki air yang sangat biru jernih.
Di pantai ini, terdapat penyu belimbing yang dikenal dengan nama tabob oleh masyarakat setempat. Penyu jenis ini dilindungi dan memiliki penangkaran di sekitar pantai yang dikelola oleh WWF.  Bahkan, jika beruntung, kamu bisa melihat burung australian pelikan yang sedang bermigrasi ke Maluku dari tempat tinggal mereka di Australia dan Papua New Guinea.

4. PANTAI DATO MAJENE

dato majene-573.JPG
Pantai Dato Majene dapat ditemukan di Dusun Pangale, berada sekira 7 km dari Kota Majene, di Provinsi Sulawesi Barat.  Dari kota Majene sendiri, waktu tempuh untuk yang diperlukan untuk mencapai pantai ini adalah 15 menit.
Keindahan pantai ini masih terjaga dengan alami. Dato Majene terbagi 2 bagian, yaitu pantai berpasir putih halus dan pantai beralaskan karang. Selain wisata pantai, wisatawan juga dapat menikmati wisata budaya dan kuliner khas suku Mandar, yaitu suku asli Sulawesi Bara

5. TAMAN LAUT 17 PULAU RIUNG

taman laut-573.jpg
Taman Laut 17 Pulau Riung merupakan gugusan pulau-pulau yang besar dan kecil terhampar memanjang dari Toro Padang di sebelah barat hingga Pulau Pangsar di sebelah Timur. Letaknya di Ngada, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Lokasi Taman Laut 17 Pulau Riung berada di Kecamatan Riung yang meliputi lima desa, yaitu: Sambinasi, Nangamese, Benteng Tengah, Tadho dan Lengkosambi.

6. PULAU MISOOL

pulau misool-573.jpg
Pulau Misool merupakan satu dari empat pulau terbesar di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Misool berbatasan langsung dengan Laut Seram dan perairan laut lepas yang menjadi jalur lintas hewan besar termasuk paus.
Kepulauan Raja Ampat sendiri termasuk daerah segitiga karang dunia dimana taman bawah lautnya menyimpan sekira 75% jenis ikan hias dan segitiga karang yang ada di dunia. Bukan hanya kekayaan dan keindahan alam, Pulau Misool juga memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat dari masyarakat lokalnya, berupa lukisan di dinding-dinding gua setempat.

7. PULAU MALENGE

pulau malenge-573.jpg
Pulau Malenge merupakan salah satu dari Taman Nasional Kepulauan Togean, kompleks wisata bahari dari Sulawesi Tengah. Pulau Malenge terdiri dari dua bagian pulau, yaitu Pulau Papan yang dihuni suku Bajoe dan Pulau Kadoda
Selain memiliki gugusan pantai yang indah dan pemandangan alam yang memesona, Pulau ini terbilang unik dengan kondisi alamnya yang masih diliputi hutan tropis yang rimbun.

8. PULAU PEUCANG

peucang-573.jpg
Pulau di sebuah kawasan taman nasional Ujung Kulon ini merupakan situs warisan alam dunia. Membentang di ujung barat pulau Jawa, pulau ini dikenal sebagai daerah yang kaya dengan flora dan fauna dan juga kehidupan bawah lautnya yang kaya. Keindahan alamnya dikelilingi hutan hujan tropis yang masih alami.

9. PANTAI ORA

ora-573.jpg
Pantai Ora berada di Desa Saleman, Kecamatan Seram Utara, Maluku Tengah. Ora Eco Resort merupakan satu – satunya penginapan yang ada di pantai ini. Penginapannya  seperti saung – saung yang mengambang diatas air.
Ora Eco Resort juga memiliki salah satu fasilitas yang sayang untuk dilewatkan ketika berkunjung kesini, yaitu tour menggunakan kapal untuk mengelilingi kawasan Pantai Ora.  Dengan bimbingan guide, kamu bisa akan berjalan-jalan melihat tebing, goa, snorkeling, hingga ke muara tempat pertemuan antara air tawar dan air laut.

10. PULAU SANGALAKI

sangalaki-573.jpg
Pulau yang terletak di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur ini cocok untuk kamu yang suka menyelam dan menikmati keanekaragaman flora dan fauna eksotis. Pari manta, barracudas, pari, cumi-cumi raksasa, dan bintang laut adalah binatang-binatang yang dapat kalian temukan. Selain itu, Sangalaki juga dikenal sebagai pulau dimana penyu bertelur.
Uniknya, listrik selalu dimatikan pada malam hari oleh pihak berwenang. Hal ini karena masyarakat pulau tersebut sangat menjaga ketat pelestarian alamnya.


Sumber :http://www.lipton.co.id